Posted by: mozaman75 | 27 Jun 2011

PESAN RASULULLAH: ‘JANGAN PUTUS ASA BERDOA’

Daripada Abu Hurairah bahawa Nabi SAW bersabda bermaksud;

” Allah sentiasa memperkenankan doa seseorang hamba selama doa itu tidak mengandungi ( perkara ) dosa, ( perkara yang ) memutuskan silaturahim dan selama tidak meminta supaya cepat-cepat diperkenankan. ”

Lalu Baginda ditanya oleh seseorang; “Apa maksudnya meminta dicepatkan? ”

Jawab Baginda;

” Umpamanya seseorang itu berkata dalam doanya : Aku berdoa, aku berdoa tetapi aku belum melihat doaku diperkenankan. Lalu aku putus asa dan berhenti berdoa. ”

Hadith Riwayat Muslim

Jangan Berputus-asa dikala Doa Belum dikabulkan        

Ada Hadith yang menyatakan : ” Doa adalah senjata bagi orang yang beriman. ” Juga di sisi lain menerangkan : ” Doa itu sumsum ibadah. ”

Maka perjuangan tanpa doa binasa dan doa yang tidak diiringi dengan usaha hampa.

” Jangan engkau berputus asa kerana kelambatan pemberian Allah kepadamu, padahal doamu bersungguh-sungguh. Allah telah menjamin menerima semua doa sesuai dengan yang Dia kehendaki untukmu pada waktu yang telah Dia tentukan. Bukan menurut kehendakmu dan bukan pada waktu yang engkau tentukan.

Oleh kerana itu jadikan doa dan usahamu sebagaimana fungsi ruh dengan jasad pada diri manusia. Sebab yang disebut insan kamil ( manusia seutuhnya ) ialah manakala jasad dengan ruh bertemu pada satu wujud manusia. Tidak akan disebut manusia yang sempurna, bila hanya ada ruh. Begitu pula sebaliknya, hanya akan disebut mayat, bila manusia hanya ada jasadnya sahaja tanpa dengan ruh.

Janganlah Membuatmu Putus Asa Dalam Mengulang Doa-Doa, Ketika Allah Menunda Ijabah Doa Itu?

Ibnu Athaillah as-Sakandari mengingatkan kepada kita semua agar kita tidak berputus-asa dalam berdoa. Mengapa demikian? Kerana nafsu manusia seringkali muncul ketika Allah menunda ijabah atau pengabulan doa-doa kita. Dalam keadaan demikian manusia seringkali berputus-asa, dan merasa bahawa doanya tidak dikabulkan. Sikap putus asa itu disebabkan kerana manusia merasakan bahawa apa yang dijalankan melalui doanya itu, akan benar-benar memunculkan pengabulan dan Allah. Tanpa disedari bahawa ijabah itu adalah Hak Allah bukan hak hamba. Dalam situasi keputusasaan itulah hamba Allah cenderung mengabaikan munajatnya sehingga ia kehilangan hudlur ( hadir ) bersama Allah.

Dalam ulasannya terhadap wacana di atas, Syekh Zaruq menegaskan, bahawa tipikal manusia dalam konteks berdoa ini ada tiga perkara :

Pertama :

Seseorang menuju kepada Tuhannya dengan kepasrahan sepenuhnya, sehingga dia meraih redhaNya. Hamba ini senantiasa bergantung denganNya, baik doa itu dikabulkan seketika mahupun ditunda. Dia tidak peduli apakah doa itu akan dikabulkan dalam waktu yang panjang atau lainnya.

Kedua :

Seseorang tegak di depan pintuNya dengan harapan penuh pada janjiNya dan memandang aturanNya. Hamba ini masih kembali pada dirinya sendiri dengan pandangan yang tidak acuh dan syarat-syarat yang tidak dipenuhi, sehingga mengarah pada keputusasaan dalam satu waktu, namun kadang-kadang penuh harapan optimis. Walaupun hasratnya sangat ringan, tapi syariatnya menjadi besar dalam hatinya.

Ketiga :

Seseorang yang berdiri tegak di pintu Allah namun disertai dengan sejumlah cacat jiwa dan kealpaan, dengan hanya menginginkan keinginannya belaka tanpa mengikuti aturan dan hikmah. Orang ini sangat dekat dengan keputusasaan, kadang-kadang terjebak dalam keragu-raguan, kadang-kadang terlempar dijurang kebimbangan. Semuga Allah mengampuninya.

Apakah Setiap Doa Akan Dikabulkan?

Pertanyaan ini akan terjawab bila engkau telah memahami apa yang disebut doa dan hakikatnya. Maka, tidak harus berhenti dari kesungguhan doamu, juga jangan berpaling dariNya kerana lambat masa diperkenankan pintamu. Pun pula jangan mengherdik seraya terlontar kalimah protes atas ketidak puasanmu dengan huraian firmanNya yang menyatakan :

” Dan Tuhan kamu berfirman : Berdoalah kamu kepadaKu nescaya Aku perkenankan doa permohonan kamu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong takbur daripada beribadat dan berdoa kepadaKu, akan masuk Neraka Jahanam dalam keadaan hina.

Q.S Ghaafir : 60

Perbaiki dahulu sangkamu kepada Allah dan yakinlah seraya husnuzhon ( bersangka baik ) kepadaNya, bahawa Ia tak akan mengingkari janjiNya. Kemudian perhatikan dengan saksama petunjukNya, terutama pada syarat-adab berdoa. Kemudian, cuba engkau renungkan firmanNya yang tertera di bawah ini;

” Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu mengenai Aku maka ( beritahu kepada mereka ) : Sesungguhnya Aku ( Allah ) sentiasa hampir ( kepada mereka ); Aku perkenankan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepadaKu. Maka hendaklah mereka menyahut seruanKu ( dengan mematuhi perintahKu ) dan hendaklah mereka beriman kepadaKu supaya mereka menjadi baik serta betul.

Q.S Al Baqarah : 186

Allah itu dekat kepada setiap hamba-hambaNya, bahkan kedekatanNya dihurai dalam firmanNya;

” Dan demi sesungguhnya, Kami telah mencipta manusia dan Kami sedia mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, sedang ( pengetahuan ) Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, ”

Q.S Qaaf : 16

Maka tidak layak untuk mengatakan : “Allah tidak mengabulkan doa kami. ”

Yang menjadi masalah di sini ialah, pemahaman tentang Allah dekat dengan hamba-hambaNya, juga Allah mengabulkan setiap pinta dan doa hamba-hambaNya. Tentunya memahami perkara semacam ini perlu ada kajian ilmu tauhid yang akan menyampaikan kepada pengetahuan tentang Allah dan keberadaanNya.

Allahlah yang menjamin ijabah doa itu menurut pilihanNya padamu, bukan menurut pilihan seleramu, kelak pada waktu yang dikehendakiNya, bukan menurut waktu yang engkau kehendaki.

Seluruh doa hamba pasti dijamin pengabulannya. Sebagaimana dalam firman Allah :

” Berdoalah kamu kepadaKu nescaya Aku perkenankan doa permohonan kamu.”

Q.S Ghaafir : 60

Allah menjamin pengabulan itu melalui janjiNya. Janji itu jelas bersifat mutlak. Hanya saja dalam ayat tersebut Allah tidak memfirmankan dengan kata-kata, “menurut tuntutanmu, atau menurut waktu yang engkau kehendaki, atau menurut kehendakmu itu sendiri. ”

Konsep doa yang dikabulkan harus difahami sebagai janjiNya yang pasti akan dipenuhi sesuai dengan kehendakNya. Pengabulan itu ada kalanya di dalam dunia dan ada pula di akhirat. Jika yang dipinta sesuai dengan kehendakNya, maka akan diberikannya segera, tetapi bila permohonannya tidak seiring dengan kehendakNya maka sebagai gantinya, Ia akan memberikan sesuai dengan kehendakNya sebagai alternatif yang tepat untuk dirimu dariNya. Perkara ini pun, jika Ia berkenan atas pintamu. Yang jelas Ia tidak pernah menyalahi janji-janjiNya.

Saya perjelas di sini, bahawa Allah telah mengakui pintamu juga akan memperkenankannya sesuai dengan apa yang Dia pilihkan bagimu. Tidak menurut pilihanmu bagi nafsumu. Gelora jiwa yang terasa padamu adalah rahmatNya. Terkadang engkau benci terhadap sesuatu yang tidak seirama dengan nafsumu, tetapi ia baik untukmu. Begitu pula sebaliknya, apa yang engkau cintai belum tentu baik untukmu, bahkan jahat serta merosakkan lahir batinmu. Sebagaimana firmanNya yang menyatakan;   

” Kamu diwajibkan berperang ( untuk menentang pencerobohan ) sedang peperangan itu ialah perkara yang kamu benci dan boleh jadi kamu benci kepada sesuatu padahal ia baik bagi kamu dan boleh jadi kamu suka kepada sesuatu padahal ia buruk bagi kamu. Dan ( ingatlah ), Allah jualah Yang mengetahui ( semuanya itu ), sedang kamu tidak mengetahuinya. ”

Q.S Al-Baqarah : 216

Maka itu pasrahkan dirimu dalam pilihanNya untukmu sesuai dengan kehendakNya, nescaya engkau akan menemui apa yang baik bagimu dan menurutNya.

” Dan Tuhanmu menciptakan apa yang dirancangkan berlakunya dan Dialah juga yang memilih (satu-satu dari makhlukNya untuk sesuatu tugas atau keutamaan dan kemuliaan); tidaklah layak dan tidaklah berhak bagi sesiapapun memilih (selain dari pilihan Allah). Maha Suci Allah dan Maha Tinggilah keadaanNya dari apa yang mereka sekutukan denganNya. ”

Q.S Al-Qasas : 68  

Oleh kerana itu jangan engkau memilih sesuatu apapun, jika harus memilih, maka pilih olehmu untuk tidak memilih. Jika engkau telah berhenti dari memilih sesuatu, kemudian engkau serahkan kepada Allah dalam segala hal pilihan atas kehendakNya, nescaya Ia akan memilihkan untukmu yang paling terbaik menurutNya.

Adapun diperkenankan doa itu terkadang diberi dengan wujud yang dipinta, namun tidak mustahil akan diganti dengan lainnya yang lebih baik bagimu seperti tercegah dari malapetaka, diampuni dosa atau kesalahannya, mendapat curahan nikmat serta pengabulannya ditunda untuk kelak di akhirat. Sebagaimana dihurai dalam hadith yang bersumber dari Anas RA. Berikut;

“Tiada seorangpun yang berdoa, melainkan Allah pasti akan mengabulkan doanya atau dihindarkan dari bahaya padanya atau diampuni sebahgian dari dosanya selagi ia tidak berdoa untuk sesuatu yang menjurus kepada dosa atau untuk memutuskan hubungan sanak keluarga. ”

Pada hadith riwayat Muslim menerangkan;

” Tiada seorangpun yang berdoa kepada Allah dengan rangkaian doa yang tak durhaka, melainkan Allah akan menganugerahkan dengan salah satu dari tiga perkara: Pertama disegerakan doanya, kedua ditunda untuk di akhirat dan ketiga dihindarkan dari malapetaka walau sekadarnya. ”

Maka hendaklah engkau harus mengakui kekuasaanNya yang mutlak, bahawa diperkenankan pintamu pada waktu yang dikehendakiNya bukan pada waktu yang engkau kehendaki. Kerana pilihan Allah bagi hambanya itu terlebih baik dari pada pilihan hamba bagi dirinya. Jadi, setiap doa itu pasti dikabulkan. Masalahnya hanya waktu, sebagaimana doa Musa A.S dan Harun A.S dalam firmanNya;

” Allah berfirman: Sesungguhnya telah dikabulkan doa kamu berdua; oleh itu hendaklah kamu tetap ( menjalankan perintahKu seterusnya ) dan janganlah kamu menurut jalan orang-orang yang tidak mengetahui ( peraturan janjiKu ). ”

Q.S Yunus : 89

Firman ini menerangkan tentang pengabulan doa Nabi Musa A.S dan Harun A.S untuk kehancuran Fir’aun. Tetapi untuk menunggu dikabulkan doa tersebut memakan kurun waktu selama empat puluh tahun. Begitu pula Nabi Muhammad SAW berdoa untuk Umar Ibnu Khatab R.A, agar diberi hidayah dan sekaligus menjadi pendampingnya yang setia. Dalam perkara ini beliau, Nabi Muhammad SAW dihadapkan pada penantian dua tahun lamanya. Dan masih banyak lagi riwayat yang senada dengan huraian di atas.

Dalam hadith Rasutullah SAW bersabda;

” Tidak seorang pun pendoa, melainkan ia berada di antara salah satu dari tiga kelompok ini : Kadang ia dipercepat sesuai dengan permintaannya, atau ditunda ( pengabulannya ) demi pahalanya, atau ia dihindarkan dari keburukan yang menimpanya. ”

HR. Imam Ahmad dan AI-Hakim

Dalam hadith lain disebutkan, ” Doa di antara kalian bakal di ijabahi, sepanjang kalian tidak tergesa-gesa, ( hingga akhirnya ) seseorang mengatakan, ‘ Aku telah berdoa, tapi tidak diijabahi untukku. ‘ “

HR. Bukhari-Muslim

Kerana kasih sayang dan pertolongan Allah pada hambaNya. Sebab Allah Maha Pemurah, Maha Pengasih dan Maha Mengetahui. Zat Yang Maha Pemurah apabila dimohon oleh orang yang memuliakanNya, ia akan diberi sesuatu yang lebih utama menurut KemahatahuanNya. Sementara seorang hamba itu pada dasarnya bodoh terhadap mana yang baik dan yang lebih berfaedah. Terkadang seseorang hamba itu mencintai sesuatu padahal sesuatu itu buruk baginya, dan terkadang ia membenci sesuatu padahal yang dibenci itu lebih baik baginya. Inilah yang seharusnya difahami pendoa.

Doa itu sendiri adalah ubudiyah. Rahsia doa adalah menunjukkan betapa seseorang hamba itu serba kekurangan. Kalau sahaja ijabah doa itu menurut keinginan pendoanya secara mutlak, tentu bentuk serba kekurangan itu tidak benar. Dengan demikian pula, rahsia taklif ( kewajiban ubudiyah ) menjadi keliru, padahal erti dari doa adalah adanya rahsia taklij’ itu sendiri. Oleh sebab itu, lbnu Athaillah as-Sakandari menyatakan pada wacana seterusnya :

” Janganlah membuat dirimu ragu pada janji Allah atas tidak terwujudnya sesuatu yang dijanjikan Allah, walaupun waktunya benar-benar nyata. ”

Maksudnya, kita tidak boleh ragu pada janji Allah. Terkadang Allah memperlihatkan kepada kita akan terjadinya sesuatu yang kita inginkan dan pada waktu yang ditentukan. Namun tiba-tiba tidak muncul buktinya. Kenyataan seperti itu jangan hingga membuat kita ragu-ragu kepada janji Allah itu sendiri. Allah mempunyai maksud tersendiri disebalik semua itu, iaitu mengekalkan rububiyah atas ubudiyah hambaNya. Syarat-syarat ijabah atas janjiNya, terkadang tidak dipenuhi oleh hambaNya. Kerana itu Allah pun pernah menjanjikan pertolongan kepada NabiNya Muhammad SAW dalam perang Uhud dan Ahzab serta memenangkan kota Mekkah.

Kenapa kita tidak boleh meragukan janji Allah? Sebab sikap meragukan janji Allah itu dapat mengaburkan pandangan hati kita terhadap kurnia Allah sendiri.

As-Sakandari meneruskan;

” Agar sikap demikian tidak mengaburkan mata hatimu dan meredupkan cahaya rahsia batinmu. ”  

Bahawa disebut di sana padanya pengaburan mata hati dan peredupan cahaya rahsia batin, kerana sikap skeptik terhadap Allah itu, akan menghilangkan tujuan utama dan keleluasaan pandangan pengetahuan disebalik janji Allah itu.

” Sesungguhnya Allah jualah Yang Menguasai segala alam langit dan bumi; Dia menghidupkan dan mematikan dan tidaklah ada bagi kamu selain dari Allah sesiapa pun yang menjadi pelindung dan juga yang menjadi penolong. ”

Q.S At-Taubah : 116


Responses

  1. Terima kasih, semoga saya bs lbh sabar
    amin . . .

    • Amin insya Allah


Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

Kategori

%d bloggers like this: